»» Lanjut Gan!!...
FC Barcelona,Anugerah Bagi Sepak bola Aniniversary 113th
16.15 |

Bulan November selalu menjadi hari istimewa bagi para Barcelonistas. Betapa tidak, klub kebanggaan, Barcelona Football Club, berulang tahun di bulan tersebut, tepatnya setiap tanggal 29 November. Didirikan oleh Hans Gamper, seorang pengusaha asal Swiss, lebih dari satu dasawarsa silam, tahun ini klub kebanggaan publik Catalonia itu akan berusia 113 tahun.
Dalam rentang usia yang demikian panjang, banyak sudah prestasi ditorehkan oleh Barca, terlebih dalam rentang sepuluh tahun terakhir. Sebut saja, meraih tiga dari tujuh gelar Liga Champions sejak 2006, atau sebagai kontestan wajib di babak semifinal Liga Champions lima tahun terakhir. Namun, di luar prestasi tersebut, ada beberapa hal menarik yang bisa dikupas menyangkut Barca sehingga menjadikannya selalu dikenal dengan semboyan “Mes Que Un Club” atau “Bukan Sekedar Klub”.
Soal riwayat pendirian.
Hampir sama dengan banyak klub, Barca pun awalnya didirikan sebagai kelompok pencinta sepakbola saja. Namun ada perbedaan soal identitas publik yang menjadi penggemar awal klub ini, yakni kelompok masyarakat Catalonia sebagai penduduk asli provinsi Catalonia, tempat klub ini bermarkas. Literatur sepakbola dan akademis menyebutkan sejarah penolakan provinsi terhadap dominasi ibukota telah membaurkan identitas olahraga dan nasionalisme daerah Catalonia pada beberapa fase perkembangan negara kerajaan Spanyol. Dan satu hal, dampak dari penolakan itu selalu melekat pada Barca dan tim ibukota, Real Madrid, pada laga El-Clasico, sebagai satu-satunya partai yang boleh dilabelkan demikian karena begitu panjangnya riwayat berdirinya klub ini. Barca memang beda, Barca “Bukan Sekedar Klub”.
Soal stadion.
Terkait dengan riwayat klub di atas, stadion bagi klub Barcelona adalah barang mewah sampai tahun 1957, dimana proyek konstruksi tiga tahun stadion Camp Nou selesai dibangun. Sebelumnya, Barca hanya melakukan aktivitasnya di stadion yang sangat kecil bernama Les Corts. Karena begitu kecilnya stadion ini, sebagian penonton bisa saja duduk di tribun tertinggi di belakang sehingga bila dilihat dari luar stadion, hal ini menjadi seperti deretan pantat manusia, yang menjadi awal julukan klub ini sebagai Los Cules. Barca memang beda, Barca “Bukan Sekedar Klub”.
Soal manajemen klub.
Michel Platini, Presiden UEFA, pernah berujar bahwa Barca adalah satu contoh panutan dari sedikit klub yang menjalankan prinsip-prinsip keanggotaan klub sebagai syarat kepengurusan dan manajemen klub. Memang, setelah membeli perusahaan, sepertinya membeli klub adalah tren lahan investasi baru bagi pengusaha-pengusaha kaya. Dan dampak dari semua ini berpotensi menyebabkan klub kehilangan identitas dan idealisme sepakbola terganggu. Barca memang beda, Barca “Bukan Sekedar Klub”.
Soal pembibitan pemain.
Poin ini menjadi sangat membedakan Barca dengan klub lainnya setelah globalisasi sepakbola di abad 21, yang ditandai dengan eskalasi nilai transfer dan gaji pemain setelah pembelian beberapa klub Eropa oleh milyarder minyak dari Rusia dan Timur Tengah. Barca sangat percaya diri dengan kemampuannya melatih dan mendidik olahragawan muda dengan level berjenjang hingga sampai di tim senior. Nama yang sudah kita kenal dengan tempat pembibitan ini adalah “La Masia”, yang secara harafiah berarti Rumah Petani. Barca memang beda, Barca “Bukan Sekedar Klub”.
Soal pendanaan.
Sekarang ini sepertinya terlihat sama saja kostum Barcelona dengan tim-tim lainnya, yakni bertuliskan nama sebuah perusahaan yang menjadi sponsor klub. Barca pun demikian dengan kostumnya, mencantumkan sebuah nama organisasi dunia Unicef, dan belakangan pun sudah memiliki sponsor. Namun jangan dibayangkan nama-nama organisasi yang tercantum di kostum tersebut telah menjadikan Barca klub royal dan mewah tanpa batas. Justru sebaliknya, berbeda dengan tim lain, Barca yang menyumbang ke Unicef. Barca memang beda, Barca “Bukan Sekedar Klub”.
Soal kepribadian pemain.
Tercatat, Deco dan Ronaldinho adalah dua pemain terakhir Barca yang sering terumbar media soal kehidupan malamnya. Secara perlahan, dengan promosinya pemain-pemain didikan La Masia ke dalam tim senior, semakin seragam pula sikap dan mental bertanding positif para pemain Barca. Bagaimana keterkaitannya? Beberapa artikel pribadi yang pernah dituliskan oleh beberapa wisatawan yang pernah berkunjung ke La Masia menyebutkan bahwa jam berkunjung ke akademi ini selalu diatur tidak bentrok dengan jam belajar para calon olahragawan ini, yang diyakini suatu hari akan berpengaruh pada cara hidup mereka yang tidak mencari publikasi atas prestasi yang nantinya mereka peroleh. Ini salah satu praktek yang dilakukan. Maka boleh kita menduga bahwa seleksi pemain di Barca kini bukan hanyalah soal teknik, tapi juga soal kepribadian pemain yang berdampak baik bagi keutuhan tim. Barca memang beda, Barca “Bukan Sekedar Klub”.
Soal filosofi permainan.
Ada dua istilah permainan yang sering dikaitkan dengan Barca, yakni total football dan tiki-taka. Disadari atau tidak, cara bermain Barca dengan kedua sistem di atas telah menjadi sebuah referensi bagi klub-klub lain. Betapa seringnya kita mendengar tekad para pelatih klub-klub lain untuk menjadikan permainan timnya seperti Barca. Tapi bermain seperti Barca bukan proses sehari, secara konsisten Barca selalu memeragakan sepakbolanya berdasarkan sistem tersebut, entah sesulit apapun medan atau tim yang sedang dihadapi. Barca memang beda, Barca “Bukan Sekedar Klub”.
Kekaguman kita semua para Barcelonistas pada Barca boleh jadi akan semakin bertambah bila melihat realitas sekitar kita. Iseng-iseng saya kadang coba nyeleneh mencoba menebak-nebak hasil El-Clasico dari berapa banyak orang yang saya lihat menggunakan merchandise Barca, entah baju, jaket, celana, tas, gantungan kunci dan lainnya sepanjang hari saat pertandingan dilangsungkan. Iseng-iseng tak masuk akal sebenarnya. Di sini saya menemukan penggemar Barca sudah menjadi lebih dominan. Iseng-iseng nyeleneh ini pun kadang saya lakukan di partai-partai besar Barca lainnya, sebutlah di hari final Liga Champions. Hasilnya pun secara konsisten serupa, yang saya sangat yakini disebabkan oleh keberhasilan Barca tidak hanya soal prestasi, namun juga soal hal-hal pembeda seperti di atas.
Maka berbanggalah kita sebagai Barcelonistas memiliki klub seperti Barca. Semakin panjang usia klub ini, telah semakin anugerah yang diberikannya untuk perkembangan sepakbola. Maka mari kita dukung terus Barca untuk terus berprestasi di sepakbola dan berkontribusi sosial bagi lebih banyak lagi masyarakat dunia. Selamat ulang tahun, Barca! KamiBarcelonistas akan selalu mendukungmu.
Segenap Keluarga Komunitas Barcelona Indonesia yang tergabung dalam wadah “Fans Club Barcelona Indonesia” yang tersebar di seluruh pelosok negeri, mengucapkan
“Selamat Ulang Tahun Klub Sepakbola Terbaik di Jagad Raya, 113 Tahun dan selamanya akan menjadi yang terbaik di mata dan hati pecinta olahraga Sepakbola” Visca Barca!!!
0Comments
Profile Stadion Camp Nou
16.05 |

Stadion Nou Camp merupakan markas tim raksasa Spanyol Barcelona. Nama Nou Camp sendiri memiliki arti stadion baru. Stadion ini dirancang oleh arsitek Josep Soteras Mauri dan Francesc Mitjans Miro. Saat ini, Camp Nou menjadi stadion terbesar di Eropa dengan kapasitas lebih dari 99 ribu tempat duduk. Dekatnya jarak antara tribun penonton dengan lapangan hijau dan ukurannya yang impresif, membuat stadion milik El Barca itu dikenal sebagai stadion yang paling terasa atmosfer hubungan emosional antara pertandingan di lapangan dan dukungan penonton.
Dulunya, Stadion ini bernama Estadi del FC Barcelona. Namun, setelah melakukan voting, para petinggi Barca setuju mengubah namanya menjadi Nou Camp pada 2000. Sejak berganti nama, banyak pertandingan internasional digelar di stadion ini, termasuk dua kali laga final Liga Champions.
Stadion ini dibangun pada 28 Maret 1954 dan pertama kali dibuka untuk umum pada 24 September 1957. Sepanjang perjalanannya, stadion ini telah dua kali mengalami renovasi, yakni pada 1998 dan 2008. Stadion ini memiliki lapangan sepakbola berukuran 105 68 m.
Tak hanya stadion sepak bola, namun ada juga museum dan area multimedia di dalam stadion ini. Di area multimedia, Anda akan melihat dan mendapatkan seluruh informasi apapun yang ingin Anda ketahui. Mulai dari informasi sejarah klub sampai cuplikan gol-gol terbaik yang diaplikasikan dengan teknologi layar sentuh. Atau mendengarkan lagu kebanggaan Barca dalam beberapa bahasa.
Sedangkan di museum, Anda juga bisa melihat dereten trofi yang telah dikoleksi tim raksasa Catalan itu. Meskipun demikian, namun para pengunjung tidak diperbolehkan untuk menyentuhnya.
Inilah Profil Stadion Nou Camp:
Nama : Camp Nou
Lokasi : Avinguda Aristides Maillol, Barcelona
Dibuat : 28 Maret 1954
Dibuka : 24 September 1957
Tahun Direnovasi: 1994, 2008
Arsitek : Francesc Mitjans dan Josep Soteras
Kapasitas : 99,354[1]
Luas : 105 68 m
0Comments
Arti Dari Logo FC Barcelona
15.59 |

Ane sempet bertanya-tanya sih ..dan akhirnya ane dapetin foto evolusi beberapa logo barca dari forumnya FCBI (Fans Club Barcelona Indonesia). ini dia fotonya:
nah soal defenisi dari logonya yang sekarang , aku jga ambil fotonya dari forumnya FCBI,, ini dia..
@Masherahmano (Kasyfurrahman HN)
1Comments
LA MASIA "Pabrik" Penghasil Pemain Terbaik Dunia
15.56 |

“Belajarlah sampai ke negeri China”. Tetapi, jika ingin belajar sepak bola, La Masia lah tempatnya. Rumah bata coklat yang kecil dan sederhana bergaya Katalunia ini berdiri tanpa kemewahan ketika pendukung Barcelona berbondong-bondong bergerak menuju Nou Camp.
Ini adalah rumah -La Masia- yang menjadi dasar kesuksesan Barca. Di sinilah DNA pemain dan filosofi permainan menekan, menguasai bola, menyerang yang sangat mematikan dicetak. Jika ada penunjukan tujuh keajaiban dunia di sepak bola, mustahil tidak menyebut nama La Masia-sebutan untuk akademi sepak bola klub Spanyol, FC Barcelona sebagai salah satunya. La Masia adalah magis. Ia adalah “pabrik” penghasil pemain berkualitas Superstars. Sukses Barcelona menjadi satu-satunya klub sepanjang sejarah yang memenangi enam trofi di musim 2009/10 adalah karena magis La Masia.
Coba amati Barcelona bermain, maka Anda akan menemukan jawabannya. Saat Barcelona bermain, mereka seperti dilarang memainkan umpan-umpan udara. Bola harus menjejak tanah. Umpan-umpan pendek haruslah mengalir cepat. Itulah yang disebut Tiki-Taka. Itulah yang diajarkan di La Masia. Dan itulah yang diadopsi Barcelona dan Timnas Spanyol.
“Di La Masia, kami tidak dilatih bermain untuk menang, melainkan untuk berkembang dengan segala keahlian yang diperlukan sebagai pemain bagus. Kami berlatih setiap hari dengan bola melekat di kaki setiap saat,” ujar Lionel Messi, salah satu cebolan terbaik La Masia.
Saat menjadi murid La Masia sejak berusia 13 tahun, Messi tidak diajarkan menang, tetapi bagaimana caranya meraih kemenangan itu sendiri. Di sana, pemain bisa lulus jika mereka sudah memenuhi harapan. Tetapi, mereka bisa dengan cepat dikirim pulang jika gagal menunjukkan kemajuan. Bocah-bocah di sana dilatih bersabar dan dijauhkan dari pemikiran asal menang. Ibarat petani, Messi dkk dilatih telaten menunggu padi menguning.
La Masia sendiri terletak tidak jauh dari Nou Camp dan disinilah pemain muda berbakat ditempa untuk menjadi pemain kelas dunia. Tiga finalis Pemain terbaik dunia FIFA 2010, Lionel Messi, Andreas Iniesta dan Xavi Hernandez, dan sebagian besar anggota tim inti Barcelona, adalah hasil didikan La Masia.
Di La Masia, di dinding ruang makan terpampang foto upacara kelulusan kapten Barcelona Carles Puyol dan pelatih Pep Guardiola. Sementara itu, di dapur seorang juru masak menyapa dengan ramah, dan para pemain bisa menyelesaikan pekerjaan rumah mereka di ruang belajar di tingkat dua.Suasana di La Masia memang terkesan merupakan perpaduan antara tradisi dengan harapan, suasana menyenangkan dan kebiasaan. Memang tidak ada sisi istimewa lain dari tempat ini, tetapi lokasi seluasi 600 meter persegi inilah yang membuat sistem pendidikan pemain Barcelona sangat unik dalam memproduksi pemain bola kelas dunia.
La Masia terdiri dari 15 tim, 290 pemain dan 110 pegawai dan pelatih. Dari 290 pemain, 90 persen diataranya berasal dari Spanyol, dengan 50 persen di antaranya adalah orang-orang Catalunia. Sebut saja Victor Valdes, Carles Puyol, Xavi, Iniesta, Sergio Busquets, Bojan Krkic, Gerrard Pique, Fabregas, Jordi Alba. Sisanya, 10 persen adalah pemain-pemain muda dari luar Spanyol. Lionel Messi adalah contohnya. Sudah ada 500 lebih pemain yang dihasilkan La Masia sejak 1979 silam. Termasuk Pep Guardiola yang kini menjadi pelatih Barcelona.
La Masia yang kita ketahui saat ini barulah aktif pada Oktober 1979, kala Johan Cruyff memberi masukan kepada Josep Nunez, Presiden Barca saat itu. Cruyff mengatakan, sudah saatnya Barca memiliki sekolah sepak bola seperti Akademi Ajax Amsterdam.
Sebelumnya, La Masia adalah sebuah bangunan berusia 300 tahun lebih. Bangunan yang dulu dipakai sebagai bengkel pembuat konstruksi saat pembangunan Stadion Nou Camp. Yang kemudian dialihfungsikan sebagai kantor pusat klub, sebelum akhirnya menjadi pabrik penghasil pemain muda bertalenta.
Sebelumnya, La Masia adalah sebuah bangunan berusia 300 tahun lebih. Bangunan yang dulu dipakai sebagai bengkel pembuat konstruksi saat pembangunan Stadion Nou Camp. Yang kemudian dialihfungsikan sebagai kantor pusat klub, sebelum akhirnya menjadi pabrik penghasil pemain muda bertalenta.
Dalam rentang satu dekade, La Masia sudah menghasilkan pemain hebat macam Carles Busquets, Sergi Barjuan, Guillermo Amor, dan Pep Guardiola. Menyusul Ivan de la Pena, Carles Puyol, dan Xavi Hernandez. Memasuki milenium baru, La Masia berhasil memproduksi Pepe Reina, Victor Valdes, Cesc Fabregas, Gerard Pique, Andres Iniesta, Mikel Arteta, dan Lionel Messi. Kini, La Masia terus melahirkan talenta baru macam Bojan Krkic, Thiago, Tello dan lainnya.
Bukan rahasia lagi, kunci sukses La Masia adalah bagaimana cepatnya mereka mengadopsi gaya permainan Akademi Ajax. Di La Masia, filosofi permainan Barcelona dikombinasikan pengaruh Cruyff dengan Total Football, plus gaya tiki-taka ala Spanyol.
Alhasil, La Masia mencetak pemain berteknik tinggi yang bisa tangguh di semua posisi yang memainkan permainan satu sentuhan dan passing-passing cepat.
Selain Cruyff, ada satu tokoh lagi yang memiliki peran besar dalam perkembangan La Masia. Dia adalah Louis vsn Gaal. Saat mengarsiteki Barca pada 1997, Van Gaal melakukan pembenahan pada youth system. Van Gaal “memaksa” Barca untuk mengadopsi passing game secara permanen.
Alhasil, La Masia mencetak pemain berteknik tinggi yang bisa tangguh di semua posisi yang memainkan permainan satu sentuhan dan passing-passing cepat.
Selain Cruyff, ada satu tokoh lagi yang memiliki peran besar dalam perkembangan La Masia. Dia adalah Louis vsn Gaal. Saat mengarsiteki Barca pada 1997, Van Gaal melakukan pembenahan pada youth system. Van Gaal “memaksa” Barca untuk mengadopsi passing game secara permanen.
Hal inilah yang menjadi kelebihan Barcelona dan La Masia dibanding yang lain. Para calon pemain sudah diperkenalkan dan memainkan gaya atau filosofi permainan yang sama dengan tim senior. Mereka diajar oleh pelatih-pelatih yang juga memilki filosofi dan metode yang sama.
Dalam dua-tiga tahun terakhir, Barca meraih sukses. Terkesan mendadak dan terjadi begitu cepat. Tapi, tentu saja tidak sama sekali. Semua ini adalah buah dari kerja keras dalam membentuk dan memoles bibit muda menjadi pemain bertalenta tinggi.
Satu hal yang pasti, di tengah kiprah para jutawan yang ramai-ramai menjadi pemilik klub dan menggelontorkan uang di bursa transfer, Barcelona membuktikan jika mereka bisa memproduksi pemain kelas dunia bahkan terbaik di dunia. Fenomena ini juga membuktikan, sepak bola tak melulu soal bisnis dan uang. Ibarat emas, Barca memilih menambang, mengolah sendiri bongkahan emas alam, hingga memiliki nilai seperti saat ini. Tidak dengan membeli di toko emas. Inilah La Masia d’Or, emas La Masia.
Dalam dua-tiga tahun terakhir, Barca meraih sukses. Terkesan mendadak dan terjadi begitu cepat. Tapi, tentu saja tidak sama sekali. Semua ini adalah buah dari kerja keras dalam membentuk dan memoles bibit muda menjadi pemain bertalenta tinggi.
Satu hal yang pasti, di tengah kiprah para jutawan yang ramai-ramai menjadi pemilik klub dan menggelontorkan uang di bursa transfer, Barcelona membuktikan jika mereka bisa memproduksi pemain kelas dunia bahkan terbaik di dunia. Fenomena ini juga membuktikan, sepak bola tak melulu soal bisnis dan uang. Ibarat emas, Barca memilih menambang, mengolah sendiri bongkahan emas alam, hingga memiliki nilai seperti saat ini. Tidak dengan membeli di toko emas. Inilah La Masia d’Or, emas La Masia.
“Tim Barcelona terdiri dari banyak pemain dari La Masia, dan ini merupakan faktor penting dalam sukses kami. Karena kami sudah mengetahui satu sama lain sejak lama,” ujar Iniesta kepada BBC Sport.
“Kami tumbuh bersama dengan pandangan yang sama soal sepakbola dan bermain dengan filosofi yang sama.”
KUASAI BOLA
Kunci keberhasilan Barcelona saat ini adalah filosofi permainan yang lahir sebagai turunan langsung taktik Total Football Belanda yang muncul tahun 19790 an, dan diterapkan secara menyeluruh di klub: mulai dari tim pemain berusia tujuh tahun hingga tim utama.
“Banyak orang mengatakan filosofi kami dimulai dari Tim Impian Cryuff,” ujar Folguera.
“Menurut saya filosofi ini lahir dalam upaya mengendalikan permainan dengan terus menguasai bola. Kami memang selalu mencari pemain bukan berdasarkan fisiknya, tetapi pemain yang bisa berpikir bagus, yang siap mengambil keputusan, memiliki bakat, teknik dan lincah. Kekuatan fisik tidak penting.”
“Di sinilah semua bintang memulai karir mereka,” ujar Folguera, sambil mengalihkan pandangan ke foto pemain dunia jebolan La Masia.
“Para pemain ini berpikir: Saya sekarang sudah aman. Tetapi itu berbahaya. Kami harus membuat mereka sadar bahwa impian in adalah perjalanan panjang. Kami meminta mereka untuk sabar dan tidak semua akan berhasil.
“Pep Guardiola mau membantu, tetapi tidak semua 48 pemain yang sekarang ada di sini bisa berhasil. Meski demikian, La Masia masih merupakan tempat ideal bagi pemain muda untuk menimba ilmu.”
Pendekatan sedikit-lebih baik dalam latihan Barcelona dibuat agar setiap sesi latihan sangat efektif.
“Intinya adalah menciptakan intensitas tinggi dalam sesi itu,” ujar koordinator akademi sepakbola klub, Albert Puig.
“Hingga pemain berusia 16 tahun, mereka tidak pernah menjalani latihan kebugaran hanya berlatih dengan bola. Kemudian kami menambah latihan kebugaran yang selalu disatukan dengan latihan dengan bola.”
Tidak mengherankan jika pemain seperti Pedro, yang berasal dari Kepulauan Kanari, dan pemain asal Barcelona sendiri seperti Sergio Busquets, Fabregas dan tentu saja Sang Pemain Terbaik dunia 3 kali Leo Messi kelihatan bisa berlari dengan bola yang seolah-olah menempel di sepatu mereka tidak dapat lepas dari kaki mereka.
ERA BARU
Tentu saja mereka pernah melakukan kesalahan -dan kesalahan yang sangat buruk- ketika Fabregas diijinkan pindah ke Arsenal, dan Pique bergabung selama empat tahun di Manchester United. Namun keduanya sekarang telah bersatu kembali dimana mereka menuntut ilmu bersama (Camp Nou), Pique kembali dengan uang transfer 9,7 juta pound, sedangkan Fabregas dengan transfer 29 juta Pound.
Mengetahui lulusan La Masia di tim inti Barcelona sangat mudah. Mereka memperlihatkan satu sikap pasti yang mendekati kemalasan, terus menerus mengoper bola dalam formasi segitiga dan bermain satu-dua secara berganda yang membuat lawan, dan juga penonton, kaget.
“Itu tidak hanya mudah terlihat, tetapi juga mudah diterapkan dengan para pemain La Masia,” ujar Dani Alves yang berasal dari Brasil. “Mereka memiliki kemamampuan luar biasa dalam menguasai bola dan kita pasti senang bermain dalam tim seperti ini.”
Dan La Masia terus memproduksi pemain sekaliber itu.
Pada Bulan Desember 2010 dalam pertandingan terakhir babak grup Liga Champions melawan klub Rusia Rubin Kazan, Andreu Fontas, Thiago Alcantara, Marc Bartra, Jonathan dos Santos dan Victor Vazquez menawarkan secuil formasi generasi Barca yang akan datang.
Lalu mengapa klub-klub besar Eropa lain tidak meniru model La Masia, yang hanya memakan biaya sekitar seperlima dari uang transfer 50 juta Pound bagi Fernando Torres yang dibayar Chelsea ke Liverpool..?
“Klub lain seperti Real Madrid memiliki satu sistem akademi yang bagus juga, bedannya mereka tidak mempergunakan pemain lulusan akademinya,” tambah Puig. “Jadi sebenarnya pendidikan para pemin itu belum selesai. Sedangkan kami menyatukan para pemain berbakat kami ke tim inti secara rutin. Jadi itu sama dengan membuat satu Ferrari tetapi tidak pernah dipakai.”
La Masia sudah direnovasi di akhir musim kompetisi 2010-11 dan diganti dengan fasilitas baru -berkapasitas 70-80 orang- di Ciudad Deportiva di Sant Joan Despi.”Kami memang harus pindah. Fasilitas yang baru sangat modern,” ujar Folguera.
Akademi sepakbola Barcelona bertambah luas dari 600 meter persegi menjadi lima ribu meter persegi; dari dua lantai menjadi lima lantai; dari fasilitas berumur menjadi fasilitas modern. Namun kenangan dan rasa bangga akan terus ada di rumah tembok tua yang sudah dilewati oleh banyak pemain bintang dunia.
Manchester United yang pernah melahirkan generasi emas bernama class 92 seperti David Beckham, Paul Scholes, dan Neville bersaudara di markas mereka, Carrington, kini sulit melakukannya lagi. Carrington kini tak sakti lagi. MU memang masih menyukai ‘daun muda’, tetapi bukan produk asli mereka. Begitu juga Ajax Amsterdam. Ah, sulit mengulang generasi hebat The Amsterdammer seperti Clarence Seedorf, Edgar Davids, hingga Patrick Kluivert seperti pertengahan 90-an silam. Apalagi Real Madrid yang lebih suka membeli pemain jadi dan tidak memberi ruang bagi cantera (pemain muda) akademi mereka untuk membela klub.
So Visca La Masia.
dan ini lah para jebolan la-masia berkaliber kelas dunia,, Termasuk King Leo Messi Peraih 3 Ballon D’Or dan termasuk pemain terbaik dalam sejarah sepakbola dunia..!!
dan ini lah para jebolan la-masia berkaliber kelas dunia,, Termasuk King Leo Messi Peraih 3 Ballon D’Or dan termasuk pemain terbaik dalam sejarah sepakbola dunia..!!
@Mascherahmano (Kasyfurrahman HN)
0Comments
Daftar Nama Pelatih Barca
20.01 |
ADA ADA BARCA mau kasih info sedikit tentang daftar pelatih barcelona dari awal sampai yang terakhir.Silakan simak aja gan !!!!
Negara Inggris - Jack Greenwell, 1917–24, 1931–33
Negara Inggris - Ralph Kirby, 1925–26
Negara Spanyol - Romà Forns, 1927–29
Negara Hongaria - Franz Platko, 1934–35, 1955–56
Negara Republik Irlandia - Patrick O'Connell, 1935–37
Negara Spanyol - Joan Josep Nogués, 1941–44
Negara Spanyol - Josep Samitier, 1944–47
Negara Uruguay - Enrique Fernández, 1947–50
Negara Slowakia - Fernando Daucik, 1950–54
Negara Italia - Sandro Puppo, 1954–55
Negara Spanyol - Domènec Balmanya, 1956–58
Negara Argentina - Helenio Herrera, 1958–60, 1980, 1980–1981
Negara Hongaria / Spanyol - Ladislao Kubala, 1962, 1980
Negara Spanyol - Josep Gonzalvo, 1963
Negara Spanyol - César Rodríguez, 1963–64
Negara Inggris - Vic Buckingham, 1969–71
Negara Belanda - Rinus Michels, 1971–1975, 1976–1978
Negara Jerman - Hennes Weisweiler, 1975–1976
Negara Jerman - Udo Lattek, 1981–1983
Negara Argentina - César Luis Menotti, 1983–1984
Negara Inggris - Terry Venables, 1984–87
Negara Spanyol - Luis Aragonés, 1987–88
Negara Belanda - Johan Cruyff, 1988–96
Negara Inggris - Sir Bobby Robson, 1996–97
Negara Belanda - Louis van Gaal, 1997–2000, 2002–2003
Negara Spanyol - Llorenç Serra Ferrer, 2000–2001
Negara Spanyol - Carles Rexach, 2001–2002
Negara Serbia - Radomir Antic, 2003
Negara Belanda - Frank Rijkaard, 2003–2008
Negara Spanyol - Pep Guardiola, 2008–2012
Negara Inggris - Ralph Kirby, 1925–26
Negara Spanyol - Romà Forns, 1927–29
Negara Hongaria - Franz Platko, 1934–35, 1955–56
Negara Republik Irlandia - Patrick O'Connell, 1935–37
Negara Spanyol - Joan Josep Nogués, 1941–44
Negara Spanyol - Josep Samitier, 1944–47
Negara Uruguay - Enrique Fernández, 1947–50
Negara Slowakia - Fernando Daucik, 1950–54
Negara Italia - Sandro Puppo, 1954–55
Negara Spanyol - Domènec Balmanya, 1956–58
Negara Argentina - Helenio Herrera, 1958–60, 1980, 1980–1981
Negara Hongaria / Spanyol - Ladislao Kubala, 1962, 1980
Negara Spanyol - Josep Gonzalvo, 1963
Negara Spanyol - César Rodríguez, 1963–64
Negara Inggris - Vic Buckingham, 1969–71
Negara Belanda - Rinus Michels, 1971–1975, 1976–1978
Negara Jerman - Hennes Weisweiler, 1975–1976
Negara Jerman - Udo Lattek, 1981–1983
Negara Argentina - César Luis Menotti, 1983–1984
Negara Inggris - Terry Venables, 1984–87
Negara Spanyol - Luis Aragonés, 1987–88
Negara Belanda - Johan Cruyff, 1988–96
Negara Inggris - Sir Bobby Robson, 1996–97
Negara Belanda - Louis van Gaal, 1997–2000, 2002–2003
Negara Spanyol - Llorenç Serra Ferrer, 2000–2001
Negara Spanyol - Carles Rexach, 2001–2002
Negara Serbia - Radomir Antic, 2003
Negara Belanda - Frank Rijkaard, 2003–2008
Negara Spanyol - Pep Guardiola, 2008–2012
Sekian dari saya Rahman,mudah-mudahan menambah wawasan anda sekalian
Wassalam ...
0Comments
Langganan:
Postingan (Atom)
Mengenai Saya
Diberdayakan oleh Blogger.








