simpan
RSS

LA MASIA "Pabrik" Penghasil Pemain Terbaik Dunia

Football Club Barcelona
“Belajarlah sampai ke negeri China”. Tetapi, jika ingin belajar sepak bola, La Masia lah tempatnya. Rumah bata coklat yang kecil dan sederhana bergaya Katalunia ini berdiri tanpa kemewahan ketika pendukung Barcelona berbondong-bondong bergerak menuju Nou Camp.
Ini adalah rumah -La Masia- yang menjadi dasar kesuksesan Barca. Di sinilah DNA pemain dan filosofi permainan menekan, menguasai bola, menyerang yang sangat mematikan dicetak. Jika ada penunjukan tujuh keajaiban dunia di sepak bola, mustahil tidak menyebut nama La Masia-sebutan untuk akademi sepak bola klub Spanyol, FC Barcelona sebagai salah satunya. La Masia adalah magis. Ia adalah “pabrik” penghasil pemain berkualitas Superstars. Sukses Barcelona menjadi satu-satunya klub sepanjang sejarah yang memenangi enam trofi di musim 2009/10 adalah karena magis La Masia.
Coba amati Barcelona bermain, maka Anda akan menemukan jawabannya. Saat Barcelona bermain, mereka seperti dilarang memainkan umpan-umpan udara. Bola harus menjejak tanah. Umpan-umpan pendek haruslah mengalir cepat. Itulah yang disebut Tiki-Taka. Itulah yang diajarkan di La Masia. Dan itulah yang diadopsi Barcelona dan Timnas Spanyol.
“Di La Masia, kami tidak dilatih bermain untuk menang, melainkan untuk berkembang dengan segala keahlian yang diperlukan sebagai pemain bagus. Kami berlatih setiap hari dengan bola melekat di kaki setiap saat,” ujar Lionel Messi, salah satu cebolan terbaik La Masia.
Saat menjadi murid La Masia sejak berusia 13 tahun, Messi tidak diajarkan menang, tetapi bagaimana caranya meraih kemenangan itu sendiri. Di sana, pemain bisa lulus jika mereka sudah memenuhi harapan. Tetapi, mereka bisa dengan cepat dikirim pulang jika gagal menunjukkan kemajuan. Bocah-bocah di sana dilatih bersabar dan dijauhkan dari pemikiran asal menang. Ibarat petani, Messi dkk dilatih telaten menunggu padi menguning.
La Masia sendiri terletak tidak jauh dari Nou Camp dan disinilah pemain muda berbakat ditempa untuk menjadi pemain kelas dunia. Tiga finalis Pemain terbaik dunia FIFA 2010, Lionel Messi, Andreas Iniesta dan Xavi Hernandez, dan sebagian besar anggota tim inti Barcelona, adalah hasil didikan La Masia.
Di La Masia, di dinding ruang makan terpampang foto upacara kelulusan kapten Barcelona Carles Puyol dan pelatih Pep Guardiola. Sementara itu, di dapur seorang juru masak menyapa dengan ramah, dan para pemain bisa menyelesaikan pekerjaan rumah mereka di ruang belajar di tingkat dua.Suasana di La Masia memang terkesan merupakan perpaduan antara tradisi dengan harapan, suasana menyenangkan dan kebiasaan. Memang tidak ada sisi istimewa lain dari tempat ini, tetapi lokasi seluasi 600 meter persegi inilah yang membuat sistem pendidikan pemain Barcelona sangat unik dalam memproduksi pemain bola kelas dunia.
La Masia terdiri dari 15 tim, 290 pemain dan 110 pegawai dan pelatih. Dari 290 pemain, 90 persen diataranya berasal dari Spanyol, dengan 50 persen di antaranya adalah orang-orang Catalunia. Sebut saja Victor Valdes, Carles Puyol, Xavi, Iniesta, Sergio Busquets, Bojan Krkic, Gerrard Pique, Fabregas, Jordi Alba. Sisanya, 10 persen adalah pemain-pemain muda dari luar Spanyol. Lionel Messi adalah contohnya. Sudah ada 500 lebih pemain yang dihasilkan La Masia sejak 1979 silam. Termasuk Pep Guardiola yang kini menjadi pelatih Barcelona.
La Masia yang kita ketahui saat ini barulah aktif pada Oktober 1979, kala Johan Cruyff memberi masukan kepada Josep Nunez, Presiden Barca saat itu. Cruyff mengatakan, sudah saatnya Barca memiliki sekolah sepak bola seperti Akademi Ajax Amsterdam.
Sebelumnya, La Masia adalah sebuah bangunan berusia 300 tahun lebih. Bangunan yang dulu dipakai sebagai bengkel pembuat konstruksi saat pembangunan Stadion Nou Camp. Yang kemudian dialihfungsikan sebagai kantor pusat klub, sebelum akhirnya menjadi pabrik penghasil pemain muda bertalenta.
Dalam rentang satu dekade, La Masia sudah menghasilkan pemain hebat macam Carles Busquets, Sergi Barjuan, Guillermo Amor, dan Pep Guardiola. Menyusul Ivan de la Pena, Carles Puyol, dan Xavi Hernandez. Memasuki milenium baru, La Masia berhasil memproduksi Pepe Reina, Victor Valdes, Cesc Fabregas, Gerard Pique, Andres Iniesta, Mikel Arteta, dan Lionel Messi. Kini, La Masia terus melahirkan talenta baru macam Bojan Krkic, Thiago, Tello dan lainnya.
Bukan rahasia lagi, kunci sukses La Masia adalah bagaimana cepatnya mereka mengadopsi gaya permainan Akademi Ajax. Di La Masia, filosofi permainan Barcelona dikombinasikan pengaruh Cruyff dengan Total Football, plus gaya tiki-taka ala Spanyol.
Alhasil, La Masia mencetak pemain berteknik tinggi yang bisa tangguh di semua posisi yang memainkan permainan satu sentuhan dan passing-passing cepat.
Selain Cruyff, ada satu tokoh lagi yang memiliki peran besar dalam perkembangan La Masia. Dia adalah Louis vsn Gaal. Saat mengarsiteki Barca pada 1997, Van Gaal melakukan pembenahan pada youth system. Van Gaal “memaksa” Barca untuk mengadopsi passing game secara permanen.
Hal inilah yang menjadi kelebihan Barcelona dan La Masia dibanding yang lain. Para calon pemain sudah diperkenalkan dan memainkan gaya atau filosofi permainan yang sama dengan tim senior. Mereka diajar oleh pelatih-pelatih yang juga memilki filosofi dan metode yang sama.
Dalam dua-tiga tahun terakhir, Barca meraih sukses. Terkesan mendadak dan terjadi begitu cepat. Tapi, tentu saja tidak sama sekali. Semua ini adalah buah dari kerja keras dalam membentuk dan memoles bibit muda menjadi pemain bertalenta tinggi.
Satu hal yang pasti, di tengah kiprah para jutawan yang ramai-ramai menjadi pemilik klub dan menggelontorkan uang di bursa transfer, Barcelona membuktikan jika mereka bisa memproduksi pemain kelas dunia bahkan terbaik di dunia. Fenomena ini juga membuktikan, sepak bola tak melulu soal bisnis dan uang. Ibarat emas, Barca memilih menambang, mengolah sendiri bongkahan emas alam, hingga memiliki nilai seperti saat ini. Tidak dengan membeli di toko emas. Inilah La Masia d’Or, emas La Masia.
“Tim Barcelona terdiri dari banyak pemain dari La Masia, dan ini merupakan faktor penting dalam sukses kami. Karena kami sudah mengetahui satu sama lain sejak lama,” ujar Iniesta kepada BBC Sport.
“Kami tumbuh bersama dengan pandangan yang sama soal sepakbola dan bermain dengan filosofi yang sama.”
KUASAI BOLA
Kunci keberhasilan Barcelona saat ini adalah filosofi permainan yang lahir sebagai turunan langsung taktik Total Football Belanda yang muncul tahun 19790 an, dan diterapkan secara menyeluruh di klub: mulai dari tim pemain berusia tujuh tahun hingga tim utama.
“Banyak orang mengatakan filosofi kami dimulai dari Tim Impian Cryuff,” ujar Folguera.
“Menurut saya filosofi ini lahir dalam upaya mengendalikan permainan dengan terus menguasai bola. Kami memang selalu mencari pemain bukan berdasarkan fisiknya, tetapi pemain yang bisa berpikir bagus, yang siap mengambil keputusan, memiliki bakat, teknik dan lincah. Kekuatan fisik tidak penting.”
“Di sinilah semua bintang memulai karir mereka,” ujar Folguera, sambil mengalihkan pandangan ke foto pemain dunia jebolan La Masia.
“Para pemain ini berpikir: Saya sekarang sudah aman. Tetapi itu berbahaya. Kami harus membuat mereka sadar bahwa impian in adalah perjalanan panjang. Kami meminta mereka untuk sabar dan tidak semua akan berhasil.
“Pep Guardiola mau membantu, tetapi tidak semua 48 pemain yang sekarang ada di sini bisa berhasil. Meski demikian, La Masia masih merupakan tempat ideal bagi pemain muda untuk menimba ilmu.”
Pendekatan sedikit-lebih baik dalam latihan Barcelona dibuat agar setiap sesi latihan sangat efektif.
“Intinya adalah menciptakan intensitas tinggi dalam sesi itu,” ujar koordinator akademi sepakbola klub, Albert Puig.
“Hingga pemain berusia 16 tahun, mereka tidak pernah menjalani latihan kebugaran hanya berlatih dengan bola. Kemudian kami menambah latihan kebugaran yang selalu disatukan dengan latihan dengan bola.”
Tidak mengherankan jika pemain seperti Pedro, yang berasal dari Kepulauan Kanari, dan pemain asal Barcelona sendiri seperti Sergio Busquets, Fabregas dan tentu saja Sang Pemain Terbaik dunia 3 kali Leo Messi kelihatan bisa berlari dengan bola yang seolah-olah menempel di sepatu mereka tidak dapat lepas dari kaki mereka.
ERA BARU
Tentu saja mereka pernah melakukan kesalahan -dan kesalahan yang sangat buruk- ketika Fabregas diijinkan pindah ke Arsenal, dan Pique bergabung selama empat tahun di Manchester United. Namun keduanya sekarang telah bersatu kembali dimana mereka menuntut ilmu bersama (Camp Nou), Pique kembali dengan uang transfer 9,7 juta pound, sedangkan Fabregas dengan transfer 29 juta Pound.
Mengetahui lulusan La Masia di tim inti Barcelona sangat mudah. Mereka memperlihatkan satu sikap pasti yang mendekati kemalasan, terus menerus mengoper bola dalam formasi segitiga dan bermain satu-dua secara berganda yang membuat lawan, dan juga penonton, kaget.
“Itu tidak hanya mudah terlihat, tetapi juga mudah diterapkan dengan para pemain La Masia,” ujar Dani Alves yang berasal dari Brasil. “Mereka memiliki kemamampuan luar biasa dalam menguasai bola dan kita pasti senang bermain dalam tim seperti ini.”
Dan La Masia terus memproduksi pemain sekaliber itu.
Pada Bulan Desember 2010 dalam pertandingan terakhir babak grup Liga Champions melawan klub Rusia Rubin Kazan, Andreu Fontas, Thiago Alcantara, Marc Bartra, Jonathan dos Santos dan Victor Vazquez menawarkan secuil formasi generasi Barca yang akan datang.
Lalu mengapa klub-klub besar Eropa lain tidak meniru model La Masia, yang hanya memakan biaya sekitar seperlima dari uang transfer 50 juta Pound bagi Fernando Torres yang dibayar Chelsea ke Liverpool..?
“Klub lain seperti Real Madrid memiliki satu sistem akademi yang bagus juga, bedannya mereka tidak mempergunakan pemain lulusan akademinya,” tambah Puig. “Jadi sebenarnya pendidikan para pemin itu belum selesai. Sedangkan kami menyatukan para pemain berbakat kami ke tim inti secara rutin. Jadi itu sama dengan membuat satu Ferrari tetapi tidak pernah dipakai.”
La Masia sudah direnovasi di akhir musim kompetisi 2010-11 dan diganti dengan fasilitas baru -berkapasitas 70-80 orang- di Ciudad Deportiva di Sant Joan Despi.”Kami memang harus pindah. Fasilitas yang baru sangat modern,” ujar Folguera.
Akademi sepakbola Barcelona bertambah luas dari 600 meter persegi menjadi lima ribu meter persegi; dari dua lantai menjadi lima lantai; dari fasilitas berumur menjadi fasilitas modern. Namun kenangan dan rasa bangga akan terus ada di rumah tembok tua yang sudah dilewati oleh banyak pemain bintang dunia.
Manchester United yang pernah melahirkan generasi emas bernama class 92 seperti David Beckham, Paul Scholes, dan Neville bersaudara di markas mereka, Carrington, kini sulit melakukannya lagi. Carrington kini tak sakti lagi. MU memang masih menyukai ‘daun muda’, tetapi bukan produk asli mereka. Begitu juga Ajax Amsterdam. Ah, sulit mengulang generasi hebat The Amsterdammer seperti Clarence Seedorf, Edgar Davids, hingga Patrick Kluivert seperti pertengahan 90-an silam. Apalagi Real Madrid yang lebih suka membeli pemain jadi dan tidak memberi ruang bagi cantera (pemain muda) akademi mereka untuk membela klub.
So Visca La Masia.
dan ini lah para jebolan la-masia berkaliber kelas dunia,, Termasuk King Leo Messi Peraih 3 Ballon D’Or dan termasuk pemain terbaik dalam sejarah sepakbola dunia..!!

@Mascherahmano (Kasyfurrahman HN)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
Rekayasa Perangkat Lunak Smk Telkom Telesandi Bks
Diberdayakan oleh Blogger.